Sabtu, 04 April 2020

Pendidikan Anak Usia Dini


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam menunjang sebuah proses penanaman ilmu pengetahuan apalagi yang ingin di  berikan kepada anak usia dini. Sebuah proses pendidikan membutuhkan sebuah pemikiran dan sebuah cara yakni berfilsafat dalam hal memberikan yang terbaik bagi pendidikan demi kemajuan pendidikan bangsa dan demi tercapainya tujuan pendidikan bagsa yang jelas tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.
Dalam filsafat pendidikan anak usia dini ada hal sangat perlu di oerhatikan dan dipikirkan secara matang sebelum menghadapi anak dalam proses pembelajaran yakni bagaimana peran seorang guru dalam memberikan pelajaran dan bagaimana seorang guru mampu untuk memancing kekreatifitasan anak demi pembentukan karakter anak yang baik.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan pondasi bagi perkembangan kualitas sumber daya manusia selanjutnya. Karena itu peningkatan penyelenggaraan PAUD sangat memgang peranan yang penting untuk kemajuan pendidikan di masa mendatang. Arti penting mendidik anak sejak usia dini dilandasi dengan kesadaran bahwa masa kanak-kanak adalah masa keemasan (the golden age), karena dalam rentang usia dari 0 sampai 5 tahun, perkembangan fisik, motorik dan berbahasa atau linguistik seorang anak akan tumbuh dengan pesat. Selain itu anak pada usia 2 sampai 6 tahun dipenuhi dengan senang bermain. Konsep bermain sambil belajar serta belajar sambil bermain pada PAUD merupakan pondasi yang mengarahkan anak pada pengembangan kemampuan yang lebih beragam, sehingga dikemudian hari anak bisa berdiri kokoh dan menjadi sosok manusia yang berkualitas.
Melalui makalah ini kami mencoba menjelaskan untuk bisa mempelajari dan memahami tentang konsep pendidikan AUD yang merupakan sebuah hal yang penting untuk masa depan anak mendatang.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam hal ini adalah:
1.2.1 Apa pengertian PAUD?
1.2.2 Apa pentingnya PAUD?
1.2.3 Bagaimana konsep pendidikan AUD?

1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dari permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian PAUD
1.3.2 Untuk mengetahui pentingnya PAUD
1.3.3 Untuk mengetahui konsep pendidikan AUD

1.4 Metode Penulisan
Penulisan dalam makalah ini adalah penulisan yang bersifat studi perpustakaan yang bercorak deskriptif, dimana penulis berusaha memahami dan menafsirkan dengan data-data yang ada di beberapa referensi buku-buku maupun sumber media, baik cetak maupun elektronik untuk mendapatkan data yang relevan.






















BAB II
PEMBAHASAN
2.1    Pengertian PAUD
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada hakikatnya ialah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak. Secara institusional, Pendidikan Anak Usia Dini juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada pada peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan, baik kordinasi motorik, kecerdasan emosi, kecerdasan jamak, maupun kecerdasan spiritual.
Sementara itu, secara yuridis istilah anak usia dini di Indonesia ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enak tahun. Lebih lanjut pasal 1 ayat 14 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Menurut dokumen Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004, dikutip dalam Suryadi & Ulfah, 2015: 18) yang menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan pada anak. Sejalan dengan itu, menurut Arif Sulityo dalam bolgnya (https://arifsulistyo.wordpress.com/jurusan-pls/pengertian-paud/, diakses 6 September 2017) menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu jenjang pendidikan yang berupaya memberikan pembinaan kepada anak usia dini dengan menggunakan cara bermain sambil belajar dengan tujuan dapat merangsang perkembangan anak sehingga anak usia dini siap untuk malnjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
2.2    Pentingnya PAUD
PAUD memegang peranan yang sangat penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya karena merupakan fondasi bagi dasar kepribadian anak. Anak yang mendapatkan pembinaan yang tepat dan efektif sejak usia dini akan dapat meningkatkan kesehatan serta kesejahteraan fisik dan mental, yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar anak, etos kerja anak, dan produktivitas sehingga mampu mandiri dan mengoptmalkan potensi dirinya.
PAUD sangat menentukan kesuksesan seseorang di masa depan; bagaimana seseorang merespons berbagai permasalahan yang dihadapi dalam setiap langkah kehidupan sangat ditentukan oleh pengalaman dan pendidikan yang diperoleh pada saat usia dini. PAUD yang positif akan mendorong seseorang untuk merespons berbagai permasalahan kehidupan secara positif, sebaiknya pengalaman negatif dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan norma-norma kehidupan yang seharusnya.
Menurut El-Khuluqo (2015: 42) Hasil kajian menunjukkan, bahwa daya imajinasi, kreativitas, inovatif, dan proaktivitas lulusan PAUD, berbeda dengan yang tidak melaluinya. Oleh sebab itu, PAUD terus ditumbuhkembangkan pemerintah ke depan sudah bisa sudah bisa ditawar-tawar lagi lembaga ini harus dikembangkan sampai ke pelosok pedesaan sebab dalam era globalisasi sekarang kita membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing tinggi. Oleh sebab itu, perlu disiapkan SDM handal, melalui pendidikan yang berkualitas sejak dini dengan menumbuhkembangkan lembaga PAUD.
Sementara itu, menurut Mulyasa (2014: 49) pentingnya PAUD juga dapat ditinjau dari perkembangan otak manusia bahwa tahap perkembangan otak anak usia dini menempati posisi yang paling vital, karena sebagian besar perkembangan otak dicapai pada masa usia dini. Lebih jelasnya bayi lahir telah mencapai perkembangan otak 25% orang dewasa. Untuk menuju kesempurnaan perkembangan otak manusia 50% dicapai hingga usia 4 tahun, 80% hingga usia 8 tahun dan selebihnya diproses hingga anak usia 18 tahun.
Dengan demikian, usia dini memegang peranan yang sangat penting karena perkembangan otak mengalami lompatan dan berjalan sedemikian pesat. Pendidikan anak usia dini dapat dijadikan sebagai cermin untuk melihat keberhasilan anak di masa mendatang. Anak yang mendapatkan layanan yang baik semenjak usia dini memiliki harapan lebih besar dalam meraih sukses di masa mendatang.
2.3    Konsep Pendidikan Anak Usia Dini
1.      Anak Sebagai Amanah Allah
Di antara kewajiban yang dibebankan oleh Allah di atas pundak seorang insan adalah kewajiban dalam mendidik anak atau keturunan, juga berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri, istri, dan anak-anak semuanya dari siksa api neraka jahanam. Allah berfirman: dalam Qs at-Tahrim ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu: penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dank eras, yang tidak durhaka pada Allah terhadap apa yang dia perintahkan,”
Secara terang dan tegas dalam ayat tersebt Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Tidak mungkin selamat dari api neraka jika tidak taat kepada Allah, sedangkan ketaatan kepada Allah tidak mungkin tercapai tanpa pendidikan. “pendidikan itu sendiri adalah proses transformasi sesuatu pada batas kesempurnaan (kedewasaan), dan dilakukan secara bertahap. Rasulullah bersabda:
“Kalian semua adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kalian pimpin. Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumahnya (keluarganya), dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Begitu pula seorang istri adalah pemimpin didalam rumah suaminya, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepmimpinannya.”
Dalam hadis tersebut diisyaratkan peranan penting seorang suami dan istri dalam pendidikan anaknya. Tentang tugas dan kewajiban mereka Allah akan meminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat kelak. Dalam hadis lain Rasulullah menyebutkan orang tua terhadap anaknya adalah merupakan hak bagi anak. Karena itu pendidikan terhadap anak (Anak Usia Dini) tidak boleh diabaikan. Rasulullah saw bersabda: “Wa inna liwalidaika alaika hakkonn” yang artinya: dan sungguh, anak pun memiliki hak atas dirimu”
Maka anak-anak yang merupakan karunia Allah dan ujian-Nya bagi hamba-hamba Nya wajib disyukuri, dengan melaksanakan amanah itu sesuai hukum-hukum-Nya. Jika amanah ini dilalaikan betapa besar dampak buruknya baik bagi diri maupun anaknya, di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya betapa besar keuntungan dan pahala yang diberikan Allah kepada kedua orangtua yang secara penuh telah mendidik anaknya dari sejak lahir hingga dewasa.
2.      Anak Bagaikan Mutiara yang Indah
Al-Ghazali mengumpamakan keadaan jiwa anak usia dini dengan mutiara yang indah bening dan bersih sedikit pun tidak ada noda. Perumpamaan itu bukan sesuatu yang berlebihan karena Nabi sendiri menyebutkan dengan istilah Fitrah daam hadisnya. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah). Rajukan tersebut memberikan pengertian, bahwa lingkungan sebagai faktor eksternal, ikut memengatuhi dinamika dan arah pertumbuhan fitrah seoarng anak. Semakin baik penempaan fitrah ynag dimiliki manusi, maka akan semakin baiklah kepribadiannya.
Kata fitrah diartikan sebagai potensi yang diberikan Allah kepada manusia mampu melaksanakan “amanat” yang dibebankan oleh Allah kepadanya. Potensi meliputi potensi seluruh dimensi manusia. Dalam konteks ini sebagai contoh dari sekian banyak potensi yang dimiliki manusia di antara potensi tersebut adalah: pertama, potensi berjalan tegak dengan menggunakan kedua kaki, merupakan bentuk potensi jasadiah. Kedua, kemampuan manusia untuk menarik suatu kesimpulan dan sejumlah premis merupakan bentuk potensi akhlaknya. Ketiga,kemampuan manusia untuk dapat merasakan senang, nikmat, sedih, bahagia, tenteram, dan sebaginya, merupakan bentuk potensi rihaniahnya.

3.      Anak Usia Dini Cenderung Meniru
Faktor lingkungan sangat berpengaruh  dalam perkembangan dan perubahan perilaku anak, maka dalam pendidikan anak termasuk hal yang prinsip, menjauhkan anak dari berbagai jenis lingkungan yang tidak baik terutama sekali lingkungan dalam rumah tangga. Di samping itu orangtuanya menjadi contoh utama juga harus menciptakan lingkungan yang baik dan tidak mencemari perilaku anak. Sehubungan dengan ini Ahmad Susanto (dikutip dalam El-Khuluqo, 2015: 46) menyebutkan:
“Apa yang dilakukan oleh orangtua atau pendidik tentu akan ditiru oleh anak didik. Karena itu sebagai orangtua atau pendidik harus memberikan contoh nyata atau keteladanan yang baik pada anak-anak. Memang anak-anak adalah cerminan orangtuanya. Tetapi bukan hanya dari orangtua saja, anak-anak akan meniru dari lingkungan sekitar atau media lain seperti televise, playstation, juga teman sebaya, dan saudara-saudaranya yang lebih dewasa.”
Dengan demikian, menjadi karakter dasar anak sangat mudah dan cepat untuk menirukan apa yang dilihatnya dari luar berupa gerakan atau pembuatan orang lain, terutama sekali yang menjadi orangtua dan pendidiknya sebagai pihak yang dianggapnya sebagai panutan. Kenyataan ini harus menjadi perhatian, jika menginginkan anak tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan akhlak yang terpuji sehingga secara bertahap ia memiliki kepribadian yang luhur. Karena itu terutama bagi orangtua dan pendidiknya, baik disadari atau tidak, jangan seklai-kali menunjukkan apalagi mengajarkan suatu pola perbuatan yang tidak baik.
4.      Kecenderungan Pendidikan Berbasis Karakter
Menurut Doni Koesoemah (dikutip dalam El-Khuluqo, 2015: 48) istilah karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan bawaan seseorang sejak lahir.
Karakter dalam pendidikan mempertanyakan secara kritis gambaran manusia macam apa dalam kepala kita. Data-data indrawi manusia secara spontan mampu membedakan antara orang yang baik dan orang yang jahat. Antara orang yang memiliki keutamaan dan mereka yang tidak memiliki keutamaan. Bisa dikatakan bahwa dari sananya ada orang yang memiliki bakat untuk enjadi orang baik, dan sebagian lain berbakat menjadi orang jahat. Jika pandangan ini benar, maka tidak ada gunanya bagi manusia sebab karakter baik atau buruk itu sudah ada dari sananya, usaha apa pun akan tetap mengondisikan seseorang sesuai dengan karakternya. Akan tetapi, pandangan ini tetap saja tidak memuaskan, sebab bahwaa dalam kenyataannya ada orang yang dulunya jahat sekarang menjadi baik. dan sebaliknya, ada orang yang dulunya baik dan sekarang menjadi jahat.
Perubahan dari baik menjadi jahat atau sebaliknya dari jahat menjadi baik, mengindikasikan bahwa manusia mempunyai daya-daya yang dinamis yang bisa berubah. Jadi, pendidikan karakter merupakan sebah kesempatan, bukan asset yang telah dimiliki. Pendiidkan karakter adalah sebuah peluang bagi penyempurnaan diri manusia. Dengan demikian bisa dipahami pendidikan karakter sebagai sebuah usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berkeutamaan. Pendidikan karakter merupakan hasil dari usaha manusia dalam mengembangkan dirinya sendiri.
Pendidikan karakter yang mengembangkan keutamaan hidup tidak ada bedanya dengan sesorang yang belajar mengemudikan mobil. Mulanya tidak pandai mengemudikan mobil, dengan berlatih terus menerus ia sampai pada kemampuan dan keterampilan menyetir mobil. Artinya, ia menambahkan suatu kualitas dalam kepribadiannya, yaitu kemampuan menyetir mobil.
Selain itu pula, pendidikan karakter dianggap sebagai pengembangan satu kemampuan teknis di antara keterampilan lain yang mungkin dimiliki manusia, seperti main music teater, olahraga, dan lain-lain. Manusia yang tadinya tidak memiliki karakter, melalui pelatihan lantas memiliki kualitas tambahan yang disebut kemampuan untuk berbuat baik, bertanggung jawab, dan lain-lain.
5.      Pendidikan karakter
Menurut Ki Hadjar Dewantara dikutip dalam El-Khuluqo (2015: 51), pendidikan karakter adalah watak atau karakter merupakan dari segala tabiat manusia yang bersifat tetap sehingga menjadi tanda khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lainnya. Ki Hadjar Dewantara menyebut karakter itu denga nama budi pekerti atau watak, pikiran dan tubuh anak. Orang yang telah mempunyai kecerdasan budi pekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta selalu memakai ukuran, timbangan dan dasar-dasar yang pasti dan tetap. Itulah sebabnya, tiap-tiap orang itu dapat kita kenal wataknya dengan pasti, yaitu karena watak atau budi pekerti itu memang bersifat tetap dan pasti buat satu-satunya manusia sehingga dapat dibedakan orang yang satu daripada yang lain.
Konsep pendidikan karakter menurut Ki Hadjar Dewantara dipandang sangat perlu bahkan wajib diberikan kepada anak agar mereka kelak menjadi manusia yang berpribadi dan bersusila. Oleh karena itu ia menjabarkan pendidikan berkarakter ini dengan empat tahap langkah-langkah yang perlu diperhatikan yang diambil dari ajaran Islam, yaitu Syari’at, Hakikat, Tarikat dan Ma’rifat.
Tingkat syari’at, cocok diberikan kepada anak-anak yang masih kecil (tingkat TK). Mertodenya ialah membiasakan berperilaku atau berbuat baikk menurut peraturan atau norma umum di masyarakat. Anak-anak tak perlu diberikan teori budi pekerti tetap langsung dibiasakan berkarakter yang baik misalnya mengucapkan salam ketika bertemu teman, menyatakan hormat ketika bertemu orangtua dan sebagainya.
Tingkat Hakikat, diberikan pada anak SD, periode ini dibiasakan untuk berbuat dan berprilaku baik menurut ketentuan atau ukuran umum. Akan tetapi dalam waktu bersamaan mulai perlu diberi pula pengertian-pengertian sederhana mengenai mengapa ia harus berbuat yang demikian. Contohnya, di samping mereka dibiasakan mengucap salam sewaktu bertemu teman, maka mereka juga diberi pengertian tentang pentingnya mengucapkan salam itu, misalnya saja ucapan salam itu dapat menimbulkan ikatan dan keakraban antara teman.
Tingkat Tarikat, diberikan kepada anak tingkat SLTP, pada periode ini anak-anak tetap saja dibiasakan berprilaku dan berbuat baik menurut ketentuan umum, juga diberikan pengertian mengenai pentingnya hal itu dilakukan. Tetapi bersamaan waktunya juga disertai dengan aktivitas pendukung yang cocok. Misalnya saja bagaimana anak-anak itu berkesenian, berolah puisi, berolahraga, dan bersastra ria sambil berolah budi. Contohnya, anak-anak SLTP dilatih menari “halus” sambil menjelaskan makna-makna gerakan yang ada di dalamnya untuk menanamkan konsep berkarakter.
Tingkat yang terakhir adalah tingkat ma’rifat, cocok diberikan pada anak-anak SMA/SMK. Dalam periode ini anak-anak disentuh pemahaman dan kesadarannya sehingga kalau ia berlaku dan berbuat baik itu bukan semata-mata kebiasaan dan pengertiannya, akan tetapi memang telah memiliki kesadaran di dalam lubuk hatinya untuk melakukan hal yang demikian itu.
Dengan adanya budi pekerti atau karakter itu tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka berpribadi, dapat memerintah atau meguasai diri sendiri mandiri, inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan karakter dalam garis besarnya.
Menurut Winie dikutip dalam El-Khuluqo (2015: 56) memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian tentang karakter. Pertama, ia mneunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku. Apabila seseorang berprilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila seseorang berprilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut memanifestasikan karakter mulia. kedua, istilah karakter erat kaitannya dengan ‘personality’. Seseorang baru bisa disebut’ orang yang berkarakter’ (a person of character)apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.
Sedangkan Imam Ghazali dikutip dalam El-Khuluqo (2015: 56) menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan. Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa karakter itu berkaitan dengan kekuatan moral berkonotasi ‘positif’, bukan netral. Jadi, ‘orang berkarakter’ adalah orang yang mempunyai kualitas (tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun kaakter, secara implicit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang didasari dengan dimensi moral yang positif atau baik, bukan yang negative atau buruk.
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia mempunyai kecendrungan fitrah untuk mencintai kebaikan. Namun, fitrah ini adalah bersifat potensial, atau belum termanifestasi ketika anank dilahirkan. David Brooks dan F. Goble dikutip dalam El-Khuluqo (2015: 58) mengatakan bahwa walaupun manusia mempunyai fitrah kebaikan, namun tanpa diikuti dengan pembentukan karakter, maka manusia dapat berubah menjadi binatang, bahkan lebih buruk lagi. Oleh karena itu, sosialisasi dan pendidikan anak yang berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan baik di keluarga, sekolah, maupun lingkungan yang lebih luas sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak.
Fitrah manusia adalah cenderung kepada kebaikan ini, masih mengakui adanya pengaruh lingkungan yang dapat menganggu proses tumbuhnya fitrah. Hal ini memberikan pembenaran perlunya faktor atau lingkungan, budaya, pendidikan dan nilai-nilai perlu disosialisasikan kepada siswa. Namun dalam proses tumbuh kembangnya pasti akan dikelilingi oleh sifat-sifat buruk berusaha tumbuh menyaingi pertumbuhan fitrah tersebut, maka sejak  usia sekolah dididik dengan nilai-nilai yang akan menyuburkan fitrah atau kesucian manusia untuk tumbuh kukuh.
Jadi beberapa pendapat dari banyak pakar pendidikan anak, dapat disimpulkan bahwa terbentuknya karakter atau kepribadian manusia adalah ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor alami atau fitrah, sosialisasi atau pendidikan.
Secara historis pendidikan karakter merupakan misi utama para nabi. Muhammad Rasulullah sedari awal tugasnya memiliki suatu pernyataan unik, bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan karakter (akhlaq). Muhammad Rasulullah mengindikasikan bahwa pembentukan karakter merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhnya cara beragama yang dapat menciptakan peradaban. Pada sisi lain, bahwa masing-masing manusia telah memiliki karakter tertentu, namun perlu disempurnakan.
Pendidikan karakter yang dilakukan di instansi pendidikan dapat dilakukan dengan selalu memberikan arahan mengenai konsep baik dan buruk sesuai dengan tahap perkembangan umur anak. Penerapan pendidikan karakter di instansi pendidikan dapat mengikuti pilot project SBB dan tingkat pendidikan karakter milik yayasan Indonesia Haritage Foundation.Penerapan model tersebut adalah sebagai berikut, memakai acuan nilai-nilai dari 9 pilar karakter, yaitu cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; kemandirian dan tanggung jawab; kejujuran atau amanah dan bujaksana; hormat dan santun, dermawan, suka menolong dan gotong royong; percaya diri, kreatif dan pekerja keras; kepemimpinan dan keadilan; baik dan rendah hati; toleransi, kedamaian dan kesatuan.
Selanjutnya dalam upaya pembangunan  karakter bangsa yang sangat berperan penting adalah generasi muda karena para generasi muda adalah penerus bangsa yang akan menentukan masa depan dan integritas bangsa Indonesia. Tiga peran penting generasi muda dalam upaya pembangunan karakter bangsa adalah: 1) sebagai pembanguun kembali karakter bangsa yang positif. Esensi peran ini adalah adanya kemauan keras dan komitmen dari generasi muda untuk menjunjung tinggi nilai-nilai moral di atas kepentingan-kepentingan sesaat sekaligus upaya kolektif untuk menginternalisasikannya pada kegiatan dan aktivitasnya sehari-hari; 2) sebagai pemberdaya karakter. Pembangunan kembali karakter bangsa tentunya tidak akan cukup jika tidak dilakukan pemberdayaan terus menerus. Sehingga generasi muda juga dituntut untuk mengambil peran sebagai pemberdaya karakter. Bentuk praktisnya adalah keemauan dan hasrat yang kuat dari generasi muda untuk menjadi role model dari pembangunan karakter bangsa yang positif. Sebagai perekyasa karakter sejalan dengan perlunya aktivitas daya saing untuk memperkuat ketahanan bangsa. Peran ini menuntut generasi muda untuk terus melakukan pembelajaran; dan 3) meningkatkan daya saing bangsa dalam bentuk kemajuan ilmu teknologi.
Menurut Porter dalam Syamsuddin (dalam El-Khuluqo, 2015: 64) pemahaman daya saing sebagai salah satu keunggulan yang dimiliki oleh suatu entitas dibanding dengan entitas lainnya, bukan baru muncul di era abad ke-21 sekarang ini. Peran daya saing  dalam mewujudkansuatu entitas lebih unggul dibandingkan lainnya sebenarnya suatu keniscayaan semenjak masa lampau. Daya saing disini tentunya harus dipahami dalam arti yang sangat luas. Peran teknologi informasi dan telekomunikasi, menurut Porter hanya sebatas mempercepat sekaligus memperbesar peran daya saing dalam menentukan keunggulan suatu entitas dibandingkan dengan entitas lainnya.
Menggunakan media massa sebagai penyalur upaya pembangunan karakter bangsa.
Menurut Oetomo (dalam El-Khuluqo, 2015: 64) peran media ada tiga, yaitu sebagai penyampai informasi, edukasi dan hiburan. Pran strategis ini hendaknya dapat didayagunakan pemerintah bekerjasama dengan pemilik media untuk menayangkan informasi yang positif dan mendukung terciptanya karakter bangsa yang kompetitif. Ketiga langkah diatas hanyalah sebagaian dari langkah-langkah strategis yang dapat diambil oleh pemerintah Indonesia untuk membangun karakter bangsa ini. Masih banyak cara yang dapat ditempuh agar bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki kapasitas dan daya saing yang tinggi juga memiliki karakter yang positif, displin dan sebagainya.
Dengan demikian, pendidikan karakter harus dapat mengembangkan semua potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini, perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademik maupun dari sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya memberikan penekanan pada aspek akademik saja dan untuk mengembangkan aspek sosial, emosi, kreativitas dan bahkan motorik anak hanya dipersiapkan untuk dapat nillai bagus, namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup.
6.      Peranan Sekolah dan Keluarga dalam Pendidikan Karakter
Karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang  khas-baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa,sarta olahraga seseorang atau sekelompok orang. Karakter bangsa Indonesia akan menentukan perilaku kolektif kebangsaan Indonesia yang khas-baik yang tercermin dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa dan perilaku berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila, norma UUD 1945, keberagaman dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan komitmen terhadap NKRI.
Pembinnaan karakter bangsa adalah upaya kolektif-sistemik suatu negara kebangsaan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yyang sesuai dengan dasar dan ideologi, konstitusi, haluan negara, serta potensi kolektifnya dalam konteks kehidupan nasional, regional dan global yang berkeadaban untuk membentuk bangsa yang tangguh, kommpetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis, berbudaya dan berorientasi Iptek barsadarkan Pancasila dan dijiawai oleh iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembinaan karakter bangsa dilakukan secara koheren melalui proses sosialisasi, pendidikan dan pembelajaran, pemberdayaan, pembudayaan dan kerjasama seluruh komponen bangsa dan negara.
Pembinaan karakter bangsa memiliki urgensi yang sangat luas dan bersifat multidimensional. Sangat luas karena terkait dengan pengembangan multiaspek potensi-potensi keunggulan bangsa dan bersifat multidimensional karena mencakup dimensi-dimensi kebangsaan yang hingga saat ini sedang dalam proses “menjadi”. Dalam hal ini dapat juga disebutkan bahwa karakter merupakan hal yang sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa. Karakter berperan sebagai “kemudi” dan kekuatan sehingga bangsa ini tidak terombang-ambing.  Karakter tidak datang dengan sedirinya, tetapi harus dibangun dan dibentuk untuk menjadi bangsa yang bermartabat.
Pembinaan karakter bangsa harus diaktualisasikan secara nyata dalam bentuk aksi nasional dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral, dan etika pembangunan bangsa sebagai uapaya untuk menjaga jati diri bangsa dan memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa dalam naungan NKRI. Pembinaan karakter bangsa harus dilakukan melalui pendekatan sistematik dan integratif dengan melibatkan keluarga, kesatuan pendidikan, pemerintah, masyarakat termasuk teman sebaya, generasi muda, lanjut usia, media massa, pramuka, organisasi kemasyarakatan, organisasi politik, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, kelompok strategis seperti elite struktural, elite politik, wartawan, budayawan, agamawan, tokoh adat, serta tokoh masyarakat. Adapun strategi pembinaan karakter dapat dilakukan melalui sosialisasi, pendidikan, pemberdayaan, pembudayaan, dan kerjasama dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat serta pendekatan multidisiplin yang tidak menekankan pada indoktrinasi.
Pendidikan karakter kembali menemukan momentumnya belakangan ini, bahkan menjadi salah satu program prioritas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional. Meski sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak perbincangan baik melalui konferensi, seminar dan pembicaraan publik lainnya, belum banyak terobosan kongkrit dalam memajukan pendidikan karakter. Dengan kebijakan Kemendikbudnas, pendidikan karakter sudah saatnya dapat terlaksana secara konkrit melalui lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat luas.
Segera jelas, pendidikan karakter terkait dengan bidang lain, khususnya budaya, pendidikan dan agama. Ketiga-tiga bidang kehidupan terakhir ini berhubungan erat dengan nilai-nilai yang sangat penting bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Budaya atau kebudayaan umumnya mencakup nilai-nilai luhur yang secara tradisional menjadi panutan bagi masyarakat. Pendidikan selain mencakup proses transfer dan transmisi ilmu pengetahuan juga merupakan proses sangat strategis dalam menanamkan nilai dalam rangka pembudayaan anak manusia. Sementara itu, agama juga mengandung ajaran tentang berbagai nilai luhur dan mulia bagi manusia untuk mencapai harkat kemanusiaan dan kebudayaannya.
Tetapi, ketiga sumber nilai yang penting bagi kehidupan itu dalam waktu-waktu tertentu dapat tidak fungsional sepenuhnya dalam terbentuknya individu dan masyarakat yang berkarakter, berkeadaban dan berharkat. Budaya, pendidikan dan behkan agama boleh jadi mengalami disorientasi karena terjadinya perubahan-perubahan cepat berdampak luas, misalnya industrialisasi, urbanisasi, modernisasi dan globalisasi.
7.      Karakter Anak Usia Dini Tumbuh Dari Kebiasaan
Karakter memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan  individu dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, pendidikan karakter (budi pekerti luhur)  bagi anak usia dini memegang peranan yang sangat penting, dan akan mewarnai perkembangan pribadi secara keseluruhan.
8.      Hakikat Pendidikan Karakter Bagi Anak Usia Dini
Pendidikan karakter bagi anak usia dini memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral karena tidak hanya berkaitan dengan masalah benar salah, akan tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang berbagai perilaku yang baik dalam kehidupan, sehingga anak memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena karakter merupakan  sifat alami bagi anak usia dini untuk merespon situasi secara bermoral, harus diwujudkan dalam tindakan nyata melalui pembiasaan untuk berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab dan hormat terhadap orang lain.
Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi kompetisi kesadaran, pemahaman kepedulian, dan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Allah, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan sehingga menjadi manusia sempurna sesuai dengan kodratnya.
Pendidikan karakter menuntut keterlibatan semua pihak (stakeholder) termasuk komponen-komponen yang ada dalam sistem itu sendiri, yaitu isi kurikulum, rencana pembelajaran, proses pembelajaran, mekanisme penilaian, kualitas hubungan, pengelolaan sekolah, pelaksanaan pengembangan diri peserta didik, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, serta etos kerja seluruh warga dan  lingkungan sekolah. Keberhasilan pendidikan karakter bangsa bagi anak usia dini sangat bergantung pada ada tidaknya kesadaran, pemahaman, kepedulian dan komitmen berbagai pihak terhadap pendidikan.
Oleh karena itu, pendidikan karakter bagi anak usia dini sebaiknya direalisasikan melalui berbagai tindakan nyata dalam pembelajaran, jangan terlalu teoritis, dan jangan banyak membatasi aktivitas pembelajaran apalagi hanya terbatas di dalam kelas.
Moral understanding sebagai aspek pertama yang harus diperhatikan dalam pendidikan karakter bagi anak usia dini memiliki enam unsur yaitu kesadaran moral (moral awaraness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing about moral values), penentuan sudut pandang (prespective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil keputusan (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge). Keenam unsur tersebut merupakan komponen-komponen yang harus ditekankan dalam pendidikan karakter, serta diajarkan kepada peserta didik dan diintegrasikan dalam seluruh pembelajaran secara khaffah.
Moral loving/moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan denga bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri percaya diri (self esteem), motivasi diri (self motivation), disiplin diri (emphaty), cinta kebenaran (loving the good), pengendalian diri (self control), dan kerendahan hati (humility).Jika kedua aspek diatas sudah terwujud dalam pendidikan anak usia dini, maka moral acting sebagai outcome akan dengan mudah dilakukan oleh peserta didik.
Sementara itu, untuk menyukseskan pendidikan karakter bagi pendidikan anak usia dini, perlu dilakukan identifikasi karakter, sebab pendidikan karakter  hanya akan menjadi sebuah perjalanan panjang tanpa ujung, seperti petualangan tanpa peta. Organisasi manapun di dunia ini yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan karakter selalu melakukan identifikasi karakter yang akan menjadi pilar perilaku individu.
Dalam hal ini, pemerintah telah menetapkkan 18 nilai karakter dan 17 nilai kewirausahaan yang harus ditanamkan kepada anak-anak sebagai berkut ini:

Tabel 1
18 Nilai Karakter
No
Nilai
Deskripsi
1
Riligius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dari pekerjaan.
3
Toleransi
Sikap  dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dari tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8
Demokratis
Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dengan orang lain.
9
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui labih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan di dengar.
10
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
11
Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan perhargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi dan politik orang lain.
12
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan seuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13
Bersahabat/ Komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain.
14
Cinta Damai
Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15
Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membawa berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya, dan mengembangkan  upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17
Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan terhadap alam, sosial budaya, negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Tabel 2
17 Nilai Kewirausahaan
No
Nilai
Deskripsi
1
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas.
2
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil berbeda dan produk/jasa yang telah ada.
3
Berani Mengambil Resiko
Kemampuan seseorang untuk menyukai pekerjaan yang menantang.
4
Berorientasi Kepada Tindakan
Mengambl inisiatif untuk bertindak dan bukan menunggu, sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki terjadi.
5
Kepemimpinan
Sikap dan perilaku seseorang yang selalu terbuka terhadap saran dan kritik, mudah bergaul, bekerjasama dan mengarahkan orang lain.
6
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas dan mengatasi berbagai hambatan.
7
Jujur
Perilaku yang didasarkan upaya menjadikan dirinya sebagai orang yag selalu dapat dipercaya dalam perkataan dan tindakan.
8
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
9
Inovatif
Kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan-persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan.
10
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang yang mau dan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya.
11
Kerjasama
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya mampu menjalin hubungan dengan orang lain dalam melaksanakan tindakan dan pekerjaan.
12
Pantang Menyerah (ulet)
Sikap dan perilaku sesorang yang tidak mudah menyerah untuk mencapai suatu tujuan dengan berbagai alternatif.
13
komitmen
Kesepakatan mengenai suatu hal yang dibuat seseorang, baik terhadap dirinya maupun orang lain.
14
Realitas
Kemampuan mengguakan fakta/ realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/perbuatan
15
Rasa ingin tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui labih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan di dengar.
16
komunikatif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul dan bekerjasama dengan orang lain.
17
Motivasi Kuat Untuk Sukses
Sikap dan tindakan selalu mencari solusi terbaik

Berkaitan dengan pendidikan karakter ini, Character Education Quality Standards merekomendasikan 11 prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter; 2) Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan da perilaku; 3) Menggunkan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter; 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian; 5) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik; 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter dan membantu mereka untuk sukses; 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri dari para peserta didik; 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagai tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia kepada nilai dasar yang sama; 9) Adanya pembagian kepemiminan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter; 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra usaha membangun karakter; dan 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik.
Dengan demikian anak usia dini harus dibiasakan dengan hal-hal yang positif yang sesuai dengan tingkat kemampuannya sehingga ketika perilaku positif sudah melekat pada dirinya ketika itu dia dikatakan sebagai anak yang berkarakter baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar